PERTEMUAN MODERATORES REGIO JAWA PLUS 2009Namaku Romaida Situngkir, tapi biasanya dipanggil Ida tuch! Oiya teman-teman, pada tanggal 2 - 6 Februari 2009 kemarin saya diberi kesempatan mengikuti TEMODS 2009 di Hening Griya Baturaden, Purwokerto dengan tema “PENGEMBANGAN KAPASITAS MODERATORES ORANG MUDA KATOLIK UNTUK PENDIDIKAN POLITIK.“ Pertemuan tersebut diawali dengan Perayaan Ekaristi Pembukaan yang dipimpin oleh Bapak Uskup Purwokerto dan para Pastor dari masing – masing Keuskupan yang mengikuti Temods 2009, yang dilanjutkan dengan acara perkenalan peserta dan panitia dari masing – masing Keuskupan. Setelah perkenalan dan ramah tamah berlangsung, kami menuju rumah retret Hening Griya Baturaden , Purwokerto. Dan di tempat inilah kami tinggal selama 4 hari....
Memang, saat pertama kali tiba di tempat itu saya merasa kebingungan, dan tidak mengerti apa itu pendidikan politik OMK. Tapi pada saat penjelasan session pertama kami dijelaskan apa itu Alur Proses Temods.... Arah yang ingin dicapai melalui kegiatan Temods 2009 ini adalah “Pengembangan kemampuan mengelola komunitas setempat untuk menanggapi keprihatinan tentang pendidikan politik & kemacetan kaderisasi serta upgrading skill”
Tema ini dipilih SC (yang diketuai Pastor C. Tri Kuncoro Yekti, Pr dari Keuskupan Surabaya) di bawah bayang-bayang pertanyaan akan efektivitas pertemuan-pertemuan seperti Temods yang selalu saja menyisakan agenda tak tergarap di tingkat basis Keuskupan, serta ketiadaan mekanisme monitoring dan evaluasi yang jelas. Berangkat dari refleksi atas sekian tahun Temods itulah perjumpaan kali ini lebih menitikberatkan peningkatan kapasitas peserta daripada penekanan tematik tertentu.
Pada session yang berikutnya kami dibentuk beberapa kelompok dengan workshop. Ada 4 kelompok workshop yang diselenggarakan, meliputi : Animasi, Manajemen Pendidikan politik OMK, Fund Raising dan Teater Rakyat.
Kebetulan saya memilih kelompok ANIMASI (pendampingan), dimana dalam kelompok ini dijelaskan tentang Ice Breaking yang artinya adalah proses pengalihan kejenuhan, kebosanan, ketegangan dan kelesuan menjadi sebuah dinamika yang menyegarkan juga sebagai warna dasar dalam tim pendampingan, didalam tim ini dibentuk menjadi dua kelompok yaitu :
Pribadi berkarakter SC :
1. Analitis.
2. Lebih senang berpikir daripada terlibat dalam sebuah aktivitas fisik.
3. Senang melakukan diskusi dan berdebat.
4. Lebih sering membicarakan hal – hal yang bersifat “abstract”.
5. Memiliki visi ke depan.
Pribadi berkarakter OC :
1. Menyukai hal – hal yang nyata, sederhana, lugas dan praktis.
2. Menyukai aktivitas fisik daripada duduk, berpikir dan berdiskusi.
3. Jeli dalam menemukan kendala & peluang di lapangan.
4. Mampu beradapatasi secara cepat dengan lingkungan baru.
5. Berpikir cepat seakan tanpa disertai pertimbangan yang matang.
6. Pribadi yang hidup dan cenderung menyenangkan.
Beberapa metode yang dipergunakan untuk mengungkap karakter peserta :
1. Questionaire : peserta diminta mengisi data diri sebelum kegiatan dimulai. Dari hasil isian tersebut dapat diketahui :
- profil ayah / ibu
- pertanyaan dilematis untuk mengecek kedekatan dengan orangtua
- anak keberapa dalam keluarga?
- hobby yang kita miliki
- kegiatan waktu luang
2. Gestures : Mengamati bahasa tubuh peserta saat mengikuti acara (lihat secara menyeluruh jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan).
3. Pendampingan – aktif – simultan : Proses pendekatan yang dilakukan oleh beberapa panitia yang ditunjuk untuk ikut berproses dalam dinamika tiap kelompok.
PROSES PENDAMPINGAN
1. Konsep Pendampingan
Fungsi : sebagai mediator / perantara yang menghubungkan peserta dengan acara/ materi. Pendampingan yang dilakukan selama retret bukan untuk mengatasi/memecahkan masalah. Pendampingan yang sifatnya pemecahan masalah hanya dilakukan jika masalah pribadi peserta dianggap sudah mengganggu perkembangan pribadi selama proses retret.
2. Tujuan Pendampingan
Membantu peserta dalam berproses selama retret sehingga peserta sampai pada hasil yang diharapkan. Dengan adanya pendampingan materi yang diberikan mampu menyentuh sisi afeksi peserta.
3. Persiapan Calon Pendamping
Pembekalan bagi pendamping meliputi 3 hal :
Wawasan / pengetahuan bisa dilakukan melalui : membaca buku tentang pendampingan, diskusi atau sharing (memiliki tujuan, proses, metode, dan teknik pendampingan).
Skill untuk menjadi seorang pendamping : ketrampilan dalam memahami kesulitan peserta ketrampilan bersikap sebagai seorang pendengar, ketrampilan mengelola dan menghidupkan antar peserta dalam suatu kelompok, terampil dalam mengungkapkan perasaan hati, mencairkan suasana, peka dalam menangkap isyarat-isyarat non-verbal dari peserta, memiliki ketrampilan menggunakan bahasa verbal dan non-verbal (body language) dalam menanggapi peserta, terampil dalam mendengarkan dan menciptakan arus komunikasi.
Persiapan mental dan spiritual : dilakukan dengan evaluasi diri dan refleksi sebagai cara peningkatan kemampuan, dapat dilakukan secara personal maupun kelompok (peserta diminta untuk mengisi form).
4. Tugas Pendamping
pengenalan terhadap peserta dengan menggunakan kuisioner atau informasi lain mengenai anak damping.
berusaha menciptakan kelompok pendampingan yang aman bagi peserta,
melakukan pengawasan atau observasi terhadap anak pendamping. Pendampingan bertujuan untuk mengetahui proses yang terjadi dalam diri peserta...
5. Konsep Pendampingan Berkelanjutan
Pendampingan perlu ditindaklanjuti dengan menjalin komunikasi secara berkesinambungan.
Dalam kelompok ini juga kita anjurkan untuk percaya diri, punya prinsip, kemauan untuk berubah, kekurangan menjadi kelebihan, memanfaatkan kemampuan yang dipunya. Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil dari kelompok animasi ini adalah sebagai penjiwaan dalam kegiataan dan bukan hanya penggembira / penghibur acara, gitu... hehehe...
Kalau tadi Ida udah cerita-cerita soal Temods 2009, sekarang gantian saya ya cerita-cerita tentang pengalaman ikutan Temods 2008 setahun kemarin? Nama saya Christina Vavianurri tapi cukup dipanggil Nuri za... Mulai nich... eng ing eng...
Buat saya bisa ikut Temods or bahasa kerennya Pertemuan Kaum Muda se-Regio Jawa Plus, tidak pernah terbayang en terpikirkan untuk saya yang tinggal jauh di Pelaihari ini. Saya lupa kapan mas Bambang menghubungi saya untuk ikut Temods 2008 di Surabaya. Kalau tidak salah kira-kira pertengahan bulan Maret (kalau tidak salah pasti bener tuch!) mas Bambang telpon saya, supaya ikutan jadi perwakilan KOMKEP Keuskupan Bajarmasin pada acara tersebut. Saya kaget plus suenang, rasanya nggak percaya aja diberi kesempatan untuk mewakili teman-teman se-Keuskupan Banjarmasin. Seperti dapat undian Rp. 1 Miliar, hahaha…. Tapi jujur aja ya, saya sempat ragu en takut juga! Apalagi setelah saya tahu materinya adalah seputar persiapan kaum muda menghadapi PEMILU 2009. Soalnya saya ini buta politik en malas kenalan sama yang namanya politik. Tapi setelah merenung dan memikirkan dari hati yang paling dalam, MENGAPA TAKUT SAMA POLITIK??? Akhirnya nekat za tulak mewakili KOMKEP Keuskupan Banjarmasin, sekalian belajar en kenalan sama politik, plus jalan-jalan wiiiiiiiiii....
Oiya, yang ikut TEMODS waktu itu ada Pastor Prillion, Jumico (Mico) dan saya sendiri. Sampai di Surabaya nich, penyambutan dari panitianya saya rasakan sungguh luar biasa; mereka ramah buanggeeeet löh. Bayangin ya, kami dijemput di bandara tepat waktu, trus kada dibiarkan kami kelaparan, dan mereka juga murah senyum! Kereeen kan?1?
Selama 5 hari pertemuan, saya ngerasa jadi PALING KURANG NANGKAP MATERI alias tëk-dunk tralala.... Hiks… kasihan banget. Ya memang, saya ini tidak tahu banyak tentang politik, tapi Tuhan memang Maha Baik, tidak dibiarkan saya ngerasa jadi orang O’ON terus-terusan. Buktinya, melalui acara itu saya jadi punya banyak kenalan (termasuk para Pastor) yang semuanya baik-baik, mau nolongin dan dampingin saya selama proses acara berlangsung. Satu lagi yang berkesan untuk saya, perbedaan diantara peserta tidak tampak sama sekali. Kami saling berbaur, baik dari kaum rohaniawan maupun kaum awam. Antara Pastor, Frater dan kaum muda serasa menjadi sebuah keluarga besar. Sueneng banget!!! Eit, ada sebuah pengalaman yang paling berharga buat saya, mau tahu nggak? Waktu itu ada seorang Pastor yang rajin memberi motivasi untuk saya, tapi maaf namanya aku lupa, maklum udah 1 tahun yang lalu dan kapasitas memori saya cuma 1 GB za, hehehe... Beliau bilang, kaum muda bukan cuma sekedar masa depan Gereja, bangsa or dunia; tapi kaum muda adalah masa kini yang harus berkarya mulai dari sekarang, kada usah nunggu sampai tua.
Yups, kita memang harus nunjukin kalau kaum muda bisa memberikan yang terbaik, tapi bukan berarti kita melangkahi para orang tua löh! Para orang tua tetap menjadi panutan dan guru bagi kita. Nah.. kata-kata Pastor itu yang memotivasi saya untuk berkarya dan kada takut lagi sama dunia politik.
Nah gitu dech pengalaman saya selama ikut Temods 2008. Asal tau aja nich, sampai sekarang aku dan teman – teman Temods 2008 masih saling berkomunikasi dan menguatkan. Pengalaman yang berharga itu membuat saya jadi lebih dewasa, wlo mungkin cuma sedikit... Makasih banyak ya buat semua teman-teman yang sudah memberikan kepercayaannya sehingga saya bisa ikutan Temods 08. TUHAN memberkati semua. [seperti diceritakan Ida dan Nurri pada agus_bli]